PETA NUSANTARA

SLIDE FOTO

MUSIK DAN FILM

pemikiran dan analisis para pakar untuk pembangunan bangsa

Cari artikel, informasi di website dan atau di blog ini, seperti; foto (image), audio dan video dengan mesin Google berikut. Ketik keyword (kata kunci) dalam kotak, klik tombol "cari" pada form berikut :
Google
TIPs : Untuk mengotimalkan pemakaian mesin pencari "google.com" diatas, dapat Anda pelajari disini, silahkan klik: [http://zulfikri-kamin.blogspot.com/2008/07/tips-mengotimalkan-mesin-pencari.html] ----------

07 September 2009

Cerpen : SAUDARA SERUMPUN

Oleh : Heru Susetyo

I hate Indon!
Malingsia!
I hate Indon!
Malingsia!

Begitu tukar sapa Agung dan Rashid apabila berpapasan di kampus Thammasat University, Phra Chan, Bangkok. Agung adalah mahasiswa Indonesia yang mendapat beasiswa pemerintah Thailand untuk studi Master bidang Thai Studies. Sedang Rashid penerima beasiswa yang sama, namun ia berasal dari Johor, Malaysia. Agung dan Rashid ibarat kembar tidak identik. Ibarat Thompson dan Thomson dalam komik Tintin. Hidup di Bangkok, dimana sangat sedikit menemukan manusia berbahasa Melayu membuat mereka cepat akrab. Selalu pergi berdua ke mana-mana. Apabila mereka berbeda jenis kelamin, mungkin sudah terjadi cinta lokasi.

Tapi, itu dulu. Sebelum pelatih karate Indonesia digebuki di Selangor, Malaysia. Sebelum Rasa Sayange dijadikan lagu pariwisata Malaysia. Sebelum Malaysia menerima muntahan asap dari Sumatera dan Kalimantan. Sebelum TKI tak terdaftar membanjiri dan menyulitkan pemerintah Malaysia.

Kini, Agung memandang Rashid bak maling. Dan Rashid memandang Agung bak TKI tak terdaftar yang disebut pendatang haram di Malaysia. Diperburuk lagi dengan lahirnya situs internet www.ihateindon.com dan www.malingsia.com yang tak jelas siapa webmaster-nya. Yang lebih jelas adalah Agung terprovokasi. Ia tak suka disebut ‘Indon’ yang konon berkonotasi budak. “Panggil aku orang Indonesia, jangan disingkat jadi ‘Indo’ atau ‘Indon’.” ujar Agus penuh emosi. Rashid juga terprovokasi. “Jangan awak sebut saya punya negeri Malingsia. Itu adalah bahagian daripada jinayah. Penghinaan,” tutur Rashid dalam logat Johor yang lumayan kental.

Maka ‘perceraian’ pun terjadi. Agung dan Rashid ‘pisah ranjang’.’ Tak melalui masa iddah. Langsung talak tiga. Tak ada lagi agenda jalan-jalan ke Mahboonkrong dan pasar Chatuchak di Sabtu siang. Tak ada lagi shalat Jum’at bersama di Soi Jet Petchburi road. Tak ada lagi jogging bersama di Suan Lumpini setiap Ahad pagi. Tak ada lagi agenda ber-badminton ria di KBRI Petchburi road dan bertennis ria di Malaysian Embassy Sathom Thai road. Pusat penghargaan IT dan Komputer di Panthip Plaza juga kehilangan mereka. Karena mereka emoh menginjak surga penikmat komputer ini apabila datang berduaan.

Kampus Thammasat University, Phra Chan Bangkok.

“Para mahasiswa sekalian. Saya ada kabar gembira. Sebagai bagian dari kuliah kita, saya menugaskan anda untuk mengikuti simposium kebudayaan di beberapa negara Asia. Ini adalah momentum terbaik untuk komunikasi antar budaya setelah anda belajar budaya Thai selama dua semester,” ujar Ajarn Surichai pada saat awal kuliah. Ada beberapa universitas yang mengadakan simposium pada waktu yang sama, yaitu Kyoto di Jepang. Shanghai di China, Kaohsiung di Taiwan, Dubai di Emirat Arab, Istanbul di Turki, Bandung di Indonesia, dan Penang di Malaysia. Kalian akan berangkat dengan biaya universitas. Biaya transportasi, akomodasi, termasuk perdiem semua ditanggung universitas.

“Puji Tuhan,” ujar Anita Chan, mahasiswa Singapura.

“Alhamdulillah,” ujar Rashid.

“Mantap, jalan-jalan euy!” teriak Agung pelan.

Belum lagi Ajarn Surichai menuntaskan informasinya. Agung sudah menginterupsinya. “Ajarn, saya pilih ke Kyoto. Saya ingin melihat ibukota tua Jepang itu di musim gugur. Pasti cantik dengan banyaknya pohon yang memerah.”

Rashid tak mau kalah. “Ajarn Surichai, please kirim saya ke Istanbul. Saya ingin menikmati Masjid Hagia Sophia dan warisan budaya Islam abad pertengahan di Bumi Eropa.”

“Ajarn Surichai, saya pilih Dubai, kendati Emirat Arab adalah negeri Islam, namun Dubai adalah kota termaju di dunia saat ini. Saya ingin menikmati gedung tertinggi di dunia, Burj Al Dubai. Pasti asyik memandang jazirah Arab dari ketinggian 800 meter,” tutur Anita Chan polos.

“Tidak. Saya yang memutuskan. Bukan kalian. Michiko-san, karena anda orang Jepang, saya kirim ke Shanghai. Anita Chan, karena anda keturunan Tionghoa, saya kirim ke Kaohsiung, Taiwan. So Young Park, karena kamu orang Korea Selatan, saya kirim ke Kyoto, Jepang. Hussein, karena kamu dari Yordania, saya kirim ke Istanbul. Naufal karena asli Yaman, silakan pergi ke Dubai, Emirat Arab. Dan anda berdua, wahai warga Melayu, karena bahasa dan kultur anda nyaris sama, silakan saling bertukar tempat. Agung, kamu pergi ke Penang Malaysia. Dan kamu, Rashid, pergi simposium ke Bandung,” Ajarn Surichai menjelaskan dengan tenang.

Agung bagai tertimpa meteor dari Jupiter. “Tapi Ajarn, saya tak ingin ke Malaysia,” protes Agung.

“Ajarn, saya juga emoh ke Indonesia, “ protes Rashid.

Keduanya lalu saling bertukar pandangan sinis.

“Tidak, Agung dan Rashid. Saya sudah memutuskan. Silakan kemasi barang kalian dan siap berangkat pekan depan. Hubungi Khun Warapom di kantor International Students untuk pengaturan tiket dan akomodasi,” jawab Ajarn Sunchai.

“I hate Indon!” sungut Rashid kepada Agung.

“Malingsia!” balas Agung tak mau kalah.

Bandara Bayan Lepas, Penang.

Dengan langkah gagah, sedikit arogan malah, Agung siap memasuki konter imigrasi bandara. Ia mengenakan dasi dan jas. Sangat resmi. Entah terpengaruh cerita darimana. Ia sangat khawatir dianggap TKI.

“Apa pekerjaan Encik?” tanya petugas imigrasi ramah.

“I am an assistant professor in Indonesia, currently pursuing Master degree in Thailand.” Agung menjawab dalam bahasa Inggris. Sengaja, biar dianggap intelek dan tidak disamakan dengan TKI, ujar Agung dalam hati. Tapi sejatinya ia bukan asisten profesor, mana ada asisten profesor masih bergelar S1?

“Nak berapa lama Encik Agung duduk di Malaysia, untuk tujuan apa, sila dikemukakan?” tanya sang petugas lagi.

“Cik, this actually not your business to ask me such questions, anyway, let me tell you that I am an honorable guest to give speech at University Sains Malaysia workshop tomorrow,” jawab Agung sombong, juga bohong. Ia bukan pembicara kok. Hanya partisipan biasa.

Sang petugas hanya tersenyum simpul. “Oke, Cik, ini paspor anda. Sebagai ASEAN citizen anda boleh duduk di Malaysia untuk tiga puluh hari mulai tarikh sekarang.” Agung tersenyum menang. Berlalu dengan angkuh. Tanpa berterima kasih pula. Rasain lu, ujarnya dalam hati.

Bandara Husein Sastranegara, Bandung.

Rashid turun dari pesawat Airbus A320 Air Asia. Penuh dengan kebanggaan ia menaiki maskapai pelopor low cost carrier milik Malaysia ini. Rasain kamu, Agung, katanya dalam hati. Kamu ke Penang dengan Air Asia. Keduanya pesawat Malaysia. Mana ada pesawat Indonesia terbang ke luar negeri. Mendarat di Eropa saja dilarang.

Setelah satu kali transit di Kuala Lumpur, ia melanjutkan dengan direct flight menuju Bandung. Kesan pertamanya mendarat di Bandung adalah… berantakan. Bandara kok di tengah kota. Kotor. Hmm, mereka harus melihat KLIA. BAndara internasional yang super megah dan kota baru Putrajaya yang sangat multimedia-oriented, ujar Rashid dalam hati.

‘Apa pekerjaan Bapak dan untuk keperluan apa ke Bandung?” tanya petugas imigrasi ramah. Ia menggunakan bahasa Indonesia karena paham orang di depannya adalah warganegara Malaysia.

Sebenarnya Rashid ingin menjawab dalam bahasa Indonesia. Namun ia ingin meyakinkan orang di depannya bahwa ia warga negara terhormat negeri tetangga. “I am an assistant professor. I was invited to speech at a workshop organized by Padjajaran University.” Rashid menjawab dalam bahasa Inggris. Tentu saja bohong. Kata siapa ia asisten profesor. Memang di Universitas Teknologi Malaysia Skudal-Johor, ia sudah tercantum sebagai calon asisten magang. Masih magang sebagai calon asisten. Bukan asisten profesor.

“Oh, welcome to Bandung Encik. Here is your passport,” lanjut petugas imigrasi lagi.

“Thank you!” jawab Rashid penuh kemenangan. Sebenarnya ia bia asaja menjawab ‘terima kasih’, namun egonya menahan untuk mengucapkan kalimat tersebut.

Di dalam taksi menuju USM Penang.

“Friend, please take me to USM!” ujar Agung kepada supir taksi yang menunggu di luar Bandara Bayan Lepas. Tetap menggunakan bahasa Inggris. Biar terkesan intelek.

“Oh sila Bang, nak conference-kah?” supir taksi menjawab dalam bahasa Melayu. Tahu bahwa tampang penumpangnya ini tampang Melayu.

“Yes, I am an honorable professor from Indonesia. I was here to give speech at USM,” jawab Agung lagi. Tetap sombong. Dan tetap bohong.

“Ah, seronok sekali Encik. Saya keturunan daripada Cina. Tapi saya punya famili di Jakarta, Semarang, dan Surabaya,” ujar sang supir tanpa ditanya.

Emang gua pikirin, jawab Agung dalam hati.

Belum lama beranjak dari Bayan Lepas Agung terkesiap. Ia baru sadar bahwa sejak masuk taksi tadi sang supir tengah menikmati lagu Ada Apa Denganmu dari Peterpan. Sepanjang perjalanan ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan bersiul mengikuti suara Ariel Peterpan. Usai hits Peterpan diputar, ia menggantinya dengan hits Ratu. Kini ia bersiul-siulmengikuti suara Maia Ahmad dan Mulan Kwok dalam Teman Tapi Mesra.

“Hey friend, why are you singing Indpnesian Songs, because of me?” tanya Agung penasaran.

“Tak lah, Cik, lagu Indonesia sangat famous di sini. Ramai budak-budak belia Malaysia senang dengan grup musik daripada Indonesia. Lebih kreatif dan energjik. Tak samalah dengan lagu Malaysia. Tarikh 17 Desember nanti di menara KOMTAR (Komplek Tunku Abdul Razak Penang akan ada performance dari Dewa 19. Saya nak datang lah, nak jumpa Ahmad Dhani dan Once Dewa.”

Hah! Agung kaget sendiri.

Di dalam taksi menuju Unpad, Bandung.

“Bro, please take me to UNPAD campus, Dipati Ukur,” ujar Rashid sesegera setelah keluar dari Bandara Husein Sastranegara.

“Apa, Tuan? Maaf saya tak bisa bahasa Inggris. Memang Tuan bukan orang Indonesia? Kok wajah Tuan mirip orang Sunda?” tanya supir taksi polos.

Dasar Indon, bahasa Inggris saja tidak bisa, sungut Rashid dalam hati. Sementara orang Malaysia saja sekarang sudah ada yang kosmonot. Ikut misi luar angkasa Rusia Oktober lepas, tambah Rashid dalam hati.

“Saya orang Malaysia, sekarang tolong bawa saya ke kampus UNPAD Dipati Ukur!” jawab Rashid dalam bahasa Indonesia yang lancar. Ia menekankan betul kalimat “Saya orang Malaysia.”

“Oh orang Malaysia. Apa kabar, Encik? Istri saya sekarang kerja di Alor Setar, Kedah. Jadi maid di rumah orang Cina.” tambah supir taksi.

“Oh ya?” hanya itu respon Rashid. Datar. Tak heranlah kalau Indon jadi maid. Ramai Indon jadi maid di Malaysia, ujar Rashid, tentu saja dalam hati.

Selepas dari Bandara Husein Sastranegara, barulah Rashid sadar bahwa sedari tadi sang supir memutar tembang Cindai, yang dilagukan Siti Nurhaliza. Usai Cindai, Siti melantunkan lagu Jika karya Melly Goeslaw berduet dengan Ari Lasso. Usai itu, Siti berduet dengan Ariel Peterpan dalam tembang Mungkin Nanti. Supir Sunda ini menikmati betul suara Siti.

“Heh, Bang, jangan kerana saya daripada Malaysia, awak mainkan lagu Siti Nurhaliza!” kata Rashid geram.

“Nggak lah, Cik. Sebelum Encik masuk taksi saya, saya sudah setel lagu Siti. Saya penggemar berat Siti. Dan bukan hanya saya, ribuan orang Indonesia senang dengan Siti Nurhaliza. Kerana ia berbusana sopan dan tentu saja, cantik ala Melayu,” sergah supir taksi. “Dan asal Encik tahu saja, apabila nanti Encik jumpa dengan mahasiswa Unpad, tanya saja siapa muslimah idola mereka. Pasti mereka jawab Nurul Izzah, putri mantan wakil perdana menteri Malaysia, Anwar Ibrahim yang cantik namun nampak shalihah itu.” lanjut supir taksi.

Hah! Rashid tak percaya. Ternyata Siti Nurhaliza dan Nurul Izzah lebih populer di Indonesia daripada di Malaysia.

Conference Room, USM Penang.

Di tengah-tengah rehat workshop, Agung duduk semeja dengan lima orang Malaysia. Mereka semua adalah dosen di USM Malaysia.

“Dari mana, Cik? Oh dari Indonesia, apa kabar? Saya juga pernah studi di ITB Bandung ketika studi sarjana mechanical engineering dulu,” ujar Dosen I.

“Ah dari Indonesia, piye kabare, Mas? Saya punya famili di Kebumen dan Purworejo. Grandfather saya berasal dari Jawa, tapi ayah saya hijrah ke Johor, Malaysia. Hingga saya lahir di Malaysia dan jadi citizen Malaysia. Jadi maaf saya tak boleh cakap bahasa Jawa,” ujar Dosen II.

“Dari mana, Bang? Oh, Indonesia. Gimana akhbar Dian Sastro dan Nia Ramadhani? Saya penggemar mereka kerana saya senang movie dan sinetron Indonesia, lebih kreatif dari film Malaysia!” tambah Dosen III.

“Dari mana, Pak? Ah Indonesia, ahlan wasahlan fi Penang. Saya punya dua anak sekarang belajar di pondok pesantren Gontor. Satu di pesantren putra di Ponorogo, satu lagi di pesantren putri Mantingan, Ngawi,” ujar Dosen IV penuh kebanggaan.

“Dari mana Bang? Ah, Indonesia. Saya kagum betul dengan demokrasi dan kebebasan berekspresi di Indonesia. Kami tak bebas berdemo dan unjuk rasa di Malaysia kerana ada Internal Security Act (ISA),” ujar Dosen V yang juga aktivis LSM.

Ruang Konferensi UNPAD, Bandung.

Usai workshop, Rashid duduk semeja dengan lima Dosen UNPAD. Berbasa-basi menunggu waktu shalat maghrib.

“Dari mana Kang? Oh, Malaysia. Apa kabar? Saya juga alumni Malaysia. Saya studi di University Sains Malaysian Penang untuk Master, dan International Islamic University Malaysia di Gombak untuk Doktor,” ujar Dosen I.

“Dari mana, Mas? Oh, Malaysia. Wilujeng Sumping. Saya juga alumni Malaysia. Saya tamat Master dari UKM Malaysia bidang medical. Satu angkatan dengan Dr. Muszaphar Shukor, Kosmonot Malaysia pertama yang terbang ke luar angkasa melalui misi luar angkasa Rusia. Hebat sekali Malaysia, sudah bisa mengirim orang ke langit luar. Indonesia sudah dua puluh tahun punya calon astronot, tapi tak kunjung berangkat dengan NASA,” ujar Dosen II.

“Dari mana, Pak? Ah, Malaysia. Selamat datang. “Terus terang…” dosen itu berbisik di telinga Rashid lalu melanjutkan kalimatnya. ”Saya adalah penggemar berat Siti Nurhaliza dan Nurul Izzah Anwar Ibrahim. Saya sempat patah hati ketika mereka menikah di usia muda.” ujar Dosen III.

Rashid tersenyum geli lalu berkata dalam hati. Benar kata si supir taksi. Tapi ternyata tidak hanya mahasiswa, dosen-pun ternyata penggemar berat kedua puan Malaysia ini.

“Dari mana Pak? Ah, Malaysia, saya sering ke Malaysia dan kagum betul dengan KLIA, Menara Petronas-KLCC, dan MRT di KL. Dahsyat!” ujar Dosen IV.

“Where are you from, Sir? Ah, Malaysia. Ahlan wa sahlan! Saya pengguna setia mobil Proton Malaysia di Bandung, murah tapi tangguh!” lanjut Dosen V.

Masjid Negeri Penang, Air Itam.

Usai workshop. Agung menunaikan shalat jama’ qashar di Masjid UNPAD, Dipati Ukur. Usai shalat, sayup-sayup didengarnya satu grup mahasiswa berlatih Nasyid Raihan dengan riangnya. Demi Masa, Ashabul Kahfi, Senyum, dan sederet Nasyid Raihan mereka lafazkan dengan lancarnya. Seusai Raihan, mereka melantunkan nasyid Secerah Pewarna dari The Dzikr Al Arqam. Juga dengan lancar. Raihan dan The Dzikr-Al Arqam adalah dua grup nasyid dari Malaysia yang kini sudah mulai jarang dilagukan oleh mahasiswa Malaysia. Rashid jadi ragu sendiri, benarkah aku sekarang sedang di Bandung?

Flight Air Asia Penang-Bangkok

Di dalam Boeing 737-400 yang membawanya ke Bangkok, tiba-tiba Agung merasa malu jadi orang Indonesia. Pesawat yang membawanya di-delay take off selama enam jam karena bandara diliputi asap pekat. Tanpa bertanya pada siapa pun Agung sudah tahu bahwa asap tersebut berasal dari pembakaran hutan di Sumatera. Ia lebih malu lagi ketika buang air kecil di tandas (toilet) bandara. Karena ia menjumpai banyak kata-kata jorok dan vulgar dalam bahasa Indonesia dituliskan di pintu tandas. Menyediakan cewek lah, gigolo lah, dan lain-lain. Dan ia yakin penulisnya orang Indonesia, karena bahasa yang digunakan khas Jakarta dan juga khas Medan.

Ia semakin malu ketika membaca kepingan berita di Koran Utusan Malaysia yang berbahasa Melayu. “Banjir besar terjadi di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi, Indonesia. Kerajaan Malaysia mengirim tim medis daripada jabatan kesihatan aam dan daripada Bulan Sabit Merah Malaysia untuk menolong mangsa banjir di Jakarta dan sekitarnya.”

Flight Air Asia Bandung-Kuala Lumpur-Bangkok.

Di dalam Airbus A320 yang mengantarnya ke Bangkok. Tiba-tiba Rashid jadi malu sebagai orang Malaysia. Shame on me! Ia baru saja membaca Koran Republika bahwa ada banyak TKW Indonesia yang pulang ke Indonesia dalam keadaan babak belur. Disiksa oleh majikannya di Kuching, Johor, ataupun Penang. Razia pasukan RELA (polisi swasta Malaysia) juga semakin ganas. Mereka tak segan menangkap dan menyiksa orang Indonesia. Sering terjadi kasus salah tangkap. Dikira TKI ternyata pelajar ataupun eksekutif Indonesia. Dan Rashid menjadi semakin malu ketika pada koran yang sama ia menemukan berita, “Banjir besar terjadi di Johor, Pahang, dan Kelantan. Korban tewas puluhan orang. Pemerintah Indonesia dan Palang Merah Indonesia mengirimkan tim Medis, obat-obatan dan bantuan sandang pangan untuk menolong korban banjir.”

Bandara Suvarnabhumi, Bangkok.

Agung bertemu Rashid di ruang pengambilan bagasi bandara Suvarnabhumi. Pesawat Agung dari Penang berselisih sepuluh menit saja dengan pesawat Rashid dari Kuala Lumpur. Awalnya mereka sama-sama kaget dan ingin membuang muka. Namun tak sempat lagi karena sudah begitu dekat. Akhirnya mereka sama-sama berucap, “Assalamualaikum, sawasdee khap, sabay dee may?”

Mereka tertawa sendiri karena mengatakan kalimat yang sama secara bersamaan. Selanjutnya mereka berbasa-basi sejenak sebelum akhirnya Agung berkata jujur.

“Rashid, ternyata Malaysia tak begitu buruk. Aku bertemu banyak orang baik di Penang . Malaysia memang Truly Asia.”

“Sama, Gung, Indonesia juga tak begitu buruk. Aku merasa feel at home di Bandung. Indonesia memang Bhinneka Tunggal Ika,” Rashid berkata sama jujurnya.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita “pacaran” lagi nih?” tantang Agus.

“Siapa takut?” jawab Rashid sambil terbahak dan menonjok bahu sahabatnya itu.

“I hate Indon!” teriak Agung.

“Malingsia!” balas Rashid.

Tak jelas, siapa orang Indonesia dan siapa orang Malaysia.***

Salaya-Putthamonthon, 20 Desember 2007
Salam hangat untuk teman-teman Malaysia di Penang

Keterangan:
Ajarn = Profesor
Khun = Tuan/Nyonya
Duduk = Tinggal/tidur
Tarikh = Tanggal
Budak belia = Anak-anak muda
Tak boleh cakap = Tak bisa berbahasa
Internal Security Act = Undang-undang Anti Teroris/ Keamanan Nasional Malaysia
KLIA = Kuala Lumpur International Airport
Mangsa = Korban
Sawasdee khap, sabay dee may = Hallo, apa kabar?

Sumber : Majalah Annida edisi Maret 2008

03 September 2009

Fakta Sejarah Dan Analisa Kepentingan Di Balik Kisruh Hubungan Indonesia-Malaysia

Oleh : Anwarsyah

Hubungan Indonesia dengan Malaysia akhir-akhir ini tampak semakin memanas. Intervensi wilayah sekitar perbatasan laut oleh Angkatan Laut Diraja Malaysia, kekalahan Indonesia atas kepemilikan pulau Sipadan dan Ligitan di Mahkamah Internasional, penganiayaan sejumlah TKI oleh beberapa oknum warga Malaysia, klaim obyek seni dan budaya Indonesia oleh pihak Malaysia dalam rangka promosi wisata kunjungan ke sana, dan yang terakhir adalah pelecehan lagu kebangsaan Indonesia Raya oleh pihak yang tidak dikenal, adalah sederetan fakta-fakta yang menunjukkan ada upaya terencana dan sistematis untuk memperburuk hubungan kedua negara.

Konfrontasi dengan “Ganyang Malaysia

Sejarah mencatat hubungan buruk tersebut bermula dari semangat anti kolonialisme dan imperialisme Presiden RI pertama Ir. Soekarno yang begitu bergelora, ditunjang dengan rasa nasionalisnya yang tinggi, membuat Bung Karno begitu marah ketika mengetahui Malaysia berencana membentuk federasi Malaysia – dengan menarik Sabah, Serawak, Brunei dan Singapura ke dalam persemakmuran Inggris Raya (Commont Wealth) bersama-sama dengan Persekutuan Tanah Malaya – setelah sebelumnya diberi kemerdekaan oleh Inggris tanggal 31 Agustus 1963. Bagi Bung Karno hal itu sama dengan memberi peluang kepada imperialis Inggris untuk berkuasa di Kalimantan Utara, dan berarti bisa membahayakan kemerdekaan Indonesia.

Kemarahan Bung Karno pun semakin memuncak disebabkan tindakan para demonstran anti Indonesia di Kuala Lumpur pada tanggal 18 September 1963 – dua hari setelah pembentukan Federasi Malaysia oleh Inggris tanggal 16 September 1963 – yang merobek-robek gambarnya dan memaksa Perdana Menteri Malaysia pada waktu itu, Tengku Abdul Rahman, untuk menginjak-injak gambar Garuda Pancasila. Rasa nasionalisme Bung Karno terusik, maka lahirlah semangat memerangi Malaysia dengan “Ganyang Malaysia”-nya, yang kemudian menjadi sebuah peperangan, konfrontasi terhadap Malaysia yang berlangsung hingga masa akhir jabatannya.

Reformasi dan Soekarnoisme

Pada tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto lengser dari kekuasaannya, dan menyerahkannya kembali kepada rakyat dalam hal ini Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang kemudian menunjuk B.J. Habibie, yang waktu menjabat sebagai Wakil Presiden, sebagai Presiden Ad-interim sampai dilaksanakannya Pemilu tahun 1999. Lengsernya Soeharto menandai berakhirnya era kekuasaan Orde Baru dan memasuki era Reformasi, yang merupakan hasil gerakan mahasiswa Indonesia yang dimulai sejak tahun sembilan puluhan.

Perlu diperhatikan bahwa konfrontasi terhadap Malaysia berakhir ketika Jenderal Soeharto berkuasa, dan selanjutnya hubungan baik dengan Malaysia terus dibina oleh persahabatan yang manis antara Soeharto sebagai Presiden RI dengan Mahathir Mohammad sebagai Perdana Menteri Malaysia pada waktu itu. Tercatat pembentukan ASEAN (South East Asian Nation) atau organisasi bangsa-bangsa di Asia Tenggara diprakarsai oleh kedua pemimpin ini.

Pada tanggal 7 Juni 1999 diselenggarakan Pemilihan Umum (Pemilu) ke-8 sepanjang sejarah politik kita, dan pertama sepanjang sejarah reformasi. Meskipun Pemilu baru saja diselenggarakan dua tahun sebelumnya, yakni tahun 1997, namun untuk memperoleh pengakuan atau kepercayaan dari publik, termasuk dunia internasional, karena pemerintahan dan lembaga-lembaga lain yang merupakan produk Pemilu 1997 sudah dianggap tidak dipercaya. Hal ini kemudian dilanjutkan dengan penyelenggaraan Sidang Umum MPR untuk memilih presiden dan wakil presiden yang baru, di mana dipilih dan ditetapkan Abdurrahman Wahid sebagai Presiden ke-4 RI dengan Megawati Soekarnoputri sebagai Wakil Presiden.

Dalam kampanye politik beberapa partai politik yang berfaham nasionalis, dimunculkan kembali semangat Soekarnoisme. Di mana-mana gambar mantan presiden pertama itu ditampilkan berikut cerita-cerita heroik dan rasa nasionalisnya yang tinggi, serta semangatnya yang sangat anti penjajahan, kolonialisme dan imperialisme, termasuk cerita tentang konfrontasi Indonesia terhadap Malaysia. Melihat hal itu beberapa pihak mengkhawatirkan terbukanya luka lama di kedua belah pihak mengenai hubungan buruk di masa lalu.

Kasus tapal batas teritorial negara

Kasus pulau Ambalat sebetulnya merupakan kasus lama yang berawal pada tahun 1967 ketika pertama kali diadakan pertemuan teknis hukum laut antara Indonesia dan Malaysia di mana kedua belah pihak akhirnya membentuk kesepakatan (kecuali Sipadan dan Ligitan diberlakukan sebagai keadaan status quo).

Pada tanggal 27 Oktober 1969 dilakukan penandatanganan perjanjian antara Indonesia dan Malaysia yang disebut sebagai Perjanjian Tapal Batas Kontinental Indonesia - Malaysia, di mana kedua negara masing-masing melakukan ratifikasi pada 7 November 1969. Namun tidak lama berselang, masih pada tahun 1969, Malaysia membuat peta baru yang memasukan pulau Sipadan, Ligitan dan Batu Puteh (Pedra blanca) ke dalam wilayahnya, tentunya hal ini membingungkan Indonesia dan Singapura, dan pada akhirnya Indonesia maupun Singapura tidak mengakui peta baru Malaysia tersebut.

Kemudian pada tanggal 17 Maret 1970 kembali ditandatangani Persetujuan Tapal batas Laut Indonesia dan Malaysia, akan tetapi kembali pada tahun 1979 pihak Malaysia kembali membuat peta baru mengenai tapal batas kontinental dan maritim dengan serta merta secara sepihak membuat perbatasan maritimnya sendiri dengan memasukan blok maritim Ambalat ke dalam wilayahnya yaitu dengan memajukan koordinat 4° 10' arah utara melewati pulau Sebatik. Tentu peta ini pun sama nasibnya dengan terbitan Malaysia pada tahun 1969, yakni diprotes dan tidak diakui oleh pihak Indonesia.

Dengan berkali-kali pihak Malaysia membuat peta sendiri padahal setelah adanya Perjanjian Tapal Batas Kontinental Indonesia - Malaysia tahun 1969 dan Persetujuan Tapal batas Laut Indonesia dan Malaysia tahun 1970, bagi masyarakat Indonesia melihatnya sebagai bentuk ekspansi dari pihak Malaysia terhadap wilayah Indonesia.

Tindakan Malaysia tidak hanya sampai di situ, tetapi berlanjut dengan aksi-aksi sepihak seperti menangkap dan mengusir nelayan Indonesia dari wilayah Ambalat, dan pemerintah Malaysia ikut-ikutan memberikan hak menambang kepada perusahaan asing di Ambalat. Masalah tapal batas wilayah di sekitar pulau Sipadan, Ligitan, Batu Puteh dan Ambalat ini berujung kepada ketegangan-ketegangan yang terus terjadi antara angkatan laut kedua negara di daerah perbatasan laut tersebut.

Sebagai puncaknya adalah keputusan Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda, dalam sidangnya pada tanggal 17 Desember 2002 yang memutuskan bahwa dalam kasus sengketa Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan, Indonesia dinyatakan kalah dari Malaysia, dan Malaysia berhak atas Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan dengan dasar efektivitas. Dalam beberapa hal, Mahkamah Internasional menerima argumentasi Indonesia bahwa Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan tidak pernah masuk dalam kesultanan Sulu seperti yang diklaim Malaysia. Namun, di sisi lain, Mahkamah Internasional mengakui klaim-klaim Malaysia bahwa mereka telah melakukan administrasi serta pengelolaan konservasi alam di kedua pulau tersebut. ( www.gatra.com )

Blok Ambalat kembali memanas dalam tahun ini ketika beberapa kali kapal perang Diraja Malaysia memasuki wilayah teritorial milik Indonesia, yang berhasil diusir oleh kapal perang Angkatan Laut RI. Tindakan memanas-manasi dari pihak Malaysia ini, masih ditanggapi dengan kepala dingin oleh Pemerintah Indonesia, sementara masyarakat Indonesia melihatnya sebagai sebuah kelemahan kita terhadap tindakan sewenang-wenang pemerintah Malaysia.

Insiden-insiden lain sebagai pemicu

Istilah “Ganyang Malaysia” kembali mencuat setelah dipicu oleh aksi pemukulan wasit karate asal Indonesia Donald Peter Luther Kolobita, Jumat (24/8/2007) di Kuala lumpur. Sekelompok pengunjuk rasa kemudian membakar bendera Malaysia di Medan dan Jakarta, Rabu (29/8). Aksi ini kemudian meluas ke seluruh Indonesia diiringi desakan agar Pemerintah Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia. Kejadian ini mengagetkan pemerintah kedua negara, namun permasalahan berhasil diselesaikan, dan keempat polisi diraja Malaysia itu dinyatakan sudah diskors.

Berita mengenai penganiayaan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri sepertinya sudah menjadi makanan sehari-hari di media-media kita. TKI yang bermaksud mencari rezeki di negeri orang ini, pada akhirnya hanya pulang dengan penderitaan, diperkosa, dianiaya, dan bahkan sampai meninggal dunia.

Kasus penganiayaan TKI di Malaysia termasuk yang paling sering. Penistaan warga Indonesia di Malaysia, khususnya yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga, seringkali berakhir tragis seperti penganiayaan hingga cacat bahkan meninggal dunia. Sedangkan rekaman film mengenai pemukulan orang yang diduga TKI disebuah tempat yang diduga kantor polisi Diraja Malaysia, semakin memanaskan keadaan. Padahal penyebaran rekaman film ini perlu dicurigai seperti ada unsur kesengajaan untuk semakin mempertajam kebencian kita kepada Malaysia.

Insiden lainnya adalah klaim obyek seni dan budaya Indonesia oleh pihak-pihak di Malaysia (pemerintah dan swasta). Dari klaim lagu Rasa Sayange, seni Batik, musik Gamelan, tari Reog Ponorogo, dan lain-lain, termasuk yang terakhir pemuatan seni tari Pendet dari Bali dalam iklan promosi pariwisata mereka. Perlu diketahui, berdasarkan sebuah informasi dari warga Malaysia sendiri, ternyata mereka tidak begitu jelas mengenai permasalahan klaim-klaim obyek seni dan budaya Indonesia oleh negaranya. Bahkan hubungan antara mereka dengan beberapa mahasiswa Indonesia di Malaysia baik-baik saja dan tidak pernah ada masalah.

Analisa pihak-pihak berkepentingan di balik kisruh hubungan Indonesia-Malaysia

Dalam setiap sengketa dan pertikaian di dunia ini, baik antar negara maupun internal sebuah negara, selalu melibatkan kepentingan-kepentingan banyak pihak, baik asing maupun lokal. Faktor ekonomi dan politik biasanya menjadi alasan campur tangan pihak-pihak tersebut untuk ikut memancing di air keruh dan mengambil manfaat apabila persengketaan berubah menjadi pertikaian dan peperangan.

Sekarang, marilah kita melakukan analisa dengan melihat faktor ekonomi dan politik, serta beberapa kemungkinan yang akan terjadi apabila pihak-pihak yang berkepentingan ikut melakukan manuver agar maksudnya terealisasi.

Pihak-pihak yang kemungkinan ikut mengambil manfaat apabila Indonesia-Malaysia benar-benar bertikai dan terjadi peperangan, adalah:

1. Malaysia sendiri.

Malaysia mempunyai kepentingan dengan sumber-sumber minyak, gas bumi dan sumber-sumber hayati laut di wilayah laut Indonesia yang sangat kaya. Batas wilayah negara di laut mempunyai kekuatan hukum yang sangat lemah, karena sebagai warisan penjajah batas-batas daerah jajahan di laut tidak ditetapkan dengan pasti antara Belanda sebagai penjajah Indonesia dengan Inggris sebagai penjajah Malaysia. Akhirnya digunakan data sejarah mengenai batas-batas wilayah kerajaan di masa lalu sebagai dasar, dan ini juga masih bisa diperdebatkan.

Selain itu sejarah mencatat mengenai adanya Gagasan pembentukan “Melayu Raya” ketika Indonesia-Filipina-Malaysia berencana mendirikan Maphilindo, singkatan dari Malaysia-Philipina-Indonesia di Manila pada 1963. Para presiden dari ketiga negara tersebut mengumumkan Deklarasi Manila yang menggabungkan negara mereka ke dalam Maphilindo.

Dalam pidato penutupan, Presiden Filipina Macapagal mengajak hadirin untuk mengenang kembali mimpi para nasionalis Filipina mulai Jose Rizal, Presiden Manuel Quezon, Wenceslao Vinzons, sampai Presiden Elpidio Quirino untuk menyatukan bangsa-bangsa Melayu. Macapagal menyebut Presiden Indonesia Soekarno dan Perdana Menteri Malaysia Tengku Abdul Rahman sebagai “two of the greatest sons of the Malay race“.

Gagasan ini berdasarkan peta antropologi bangsa-bangsa di mana Indonesia, Malaya, Temasek (Singapura), Filipina, Thailand, Burma (MYanmar), Vietnam, Kambodia, sampai Madagaskar dan Hawaii dikenal sebagai bangsa serumpun Melayu-Polinesia. Tapi sayang ide ini pudar seketika setelah Presiden RI Soekarno menyatakan perang terhadap Malaysia yang telah menjadi boneka imperialis Inggris.

Malaysia yang merasa sebagai satu-satunya negara perhimpunan bangsa Melayu bisa saja berkeinginan untuk mewujudkan Melayu Raya itu di bawah kepemimpinannya. Meskipun menurut sejarah kerajaan Melayu pertama adalah kerajaan Malayapura di Sumatera – di bawah kekuasaan Majapahit – dengan rajanya Adityawarman tahun 1347. Adityawarman adalah utusan Majapahit untuk menaklukan kerajaan Sriwijaya, yang kemudian berhasil memaksa Parameswara, putra Raja Sam Agi untuk melarikan diri ke Semenanjung Malaya dan mendirikan kerajaan Malaka (1380-1403). Malaka kemudian jatuh ke tangan Portugis tahun 1511.

2. Inggris

Sebagai pemimpin negara persemakmuran (commont wealth) dan bekas penjajah negara-negara anggotanya tersebut, tentu saja Inggris mempunyai kepentingan atas kekayaan negera-negara anggotanya. Dengan kepentingan ekonomi dan juga politik atas wilayah-wilayah Indonesia, bisa saja Inggris ikut memberikan bantuan militer kepada Malaysia dalam konflik ini.

Melihat kondisi perekonomian AS yang anjlok sekarang ini, bisa saja muncul keberanian Inggris untuk membuka front perlawanan melalui kaki tangannya, Malaysia, untuk merebut sumber minyak di Indonesia yang sekarang dikuasai perusahaan-perusahaan besar AS. Seperti diketahui Angkatan Laut Inggris adalah pasukan tempur laut terbaik di dunia, sehingga dengan modal ini Inggris cukup berani berhadapan dengan AS di Asia Tenggara.

3. Amerika Serikat (AS)

Kondisi ekonomi AS yang sedang mengalami penurunan berpengaruh terhadap kondisi perusahaan-perusahaan minyaknya yang sekarang sedang beroperasi di Indonesia. AS tentu tidak mau hak eksplorasi minyak di lepas pantai Indonesia akan jatuh ke tangan Inggris yang berada di belakang Malaysia. Kemungkinan besar AS akan memberikan bantuan militer kepada Indonesia apabila Malaysia memulai penyerangan dan perang tidak bisa dihindari.

Selain itu perseteruan AS dengan Korea Utara mengenai senjata berhulu ledak nuklir milik Korut semakin memanas, yang mungkin akan memaksa AS untuk menempatkan persenjataannya di wilayah Asia, dalam hal ini yang terdekat dengan Kores Utara adalah Asia Tenggara. Apabila terjadi peperangan antara Indonesia dengan Malaysia, maka AS mempunyai alasan untuk menempatkan kapal perang dan persenjataannya dengan membuat pangkalan militer di Indonesia.

4. Republik Rakyat Cina (RRC)

Sebagian besar orang-orang keturunan Cina di negara-negara Asia Tenggara bergerak di bidang perdagangan dan ekonomi, sebagian adalah para konglomerat dan pengusaha kelas dunia. Orang-orang keturunan Cina umumnya tidak bisa melepaskan diri dari keterkaitan budaya dengan tanah leluhurnya di Cina, termasuk juga dengan pemerintahan yang sedang berkuasa di sana.

Keterikatan yang nyata adalah para pengusaha konglomerat keturunan tersebut menempatkan sebagian besar dana investasi usahanya di Cina. Mereka juga mempunyai hubungan bisnis dengan banyak pengusaha di tanah leluhur.

Selain keterikatan budaya dan ekonomi, warga keturunan Cina juga ada yang mempunyai hubungan politik dengan pemerintah Cina yang sosialis komunis. Sejarah mencatat ada Partai Komunis Malaysia di era 60-an yang sebagian besar penggeraknya adalah warga keturunan.

Ada kemungkinan pergerakan komunisme di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia mempunyai keterkaitan yang terencana. Bisa saja para aktivis komunis di Malaysia, Indonesia dan Cina saling berhubungan dan bersama-sama memblow-up isu-isu pertentangan agar situasi semakin memanas, khas gaya komunis, dengan cara mencetuskan masalah, ikut mempublikasikannya, dan terakhir ikut berdemonstrasi agar suasana berkesan semakin kisruh.

Kepentingan RRC yang terbesar adalah perluasan skop ekonomi dan politik mereka, sehingga negara-negara yang dikuasai komunis akan berkiblat secara ekonomi dan politik ke negara tirai bambu tersebut, atau dengan kata lain RRC berniat membentuk RRC yang lebih luas atau Cina Raya.

Menurut sejarah gerakan komunis di Indonesia mudah untuk membonceng pada organisasi atau orang berfaham nasionalis, seperti PKI yang didukung oleh Bung Karno disebabkan PKI satu-satunya yang mendukung program “Ganyang Malaysia”-nya Soekarno. Maka mungkin saja kelompok komunis berkeinginan untuk mengulang sejarah di masa lalu dengan mengatasnamakan nasionalisme mereka bergerak merealisasikan cita-citanya, mengkomuniskan Indonesia dan Malaysia.

5. Indonesia

Kepentingan Indonesia terutama adalah mempertahankan wilayahnya, harga diri bangsa dan aset-aset sumber kekayaan alam berupa minyak bumi lepas pantai, hutan kayu di daerah perbatasan dan sumber daya hayati laut. Sedangkan kemungkinan adanya kepentingan politik sangat kecil.

6. Gerakan kelompok Islam radikal

Gerakan kelompok Islam radikal yang akhir-akhir ini semakin menjadi sorotan setelah beberapa kali melakukan insiden pengebomam di beberapa negara termasuk di Indonesia ada kemungkinan ikut mengambil manfaat dari keruhnya situasi hubungan Indonesia dengan Malaysia ini. Cita-cita mereka untuk mendirikan Negara Islam Indonesia – untuk gerakan lokal Indonesia – mungkin bisa berkembang menjadi Negara Islam Asia Tenggara, dengan menjalin kerjasama dengan kelompok-kelompok Islam radikal di Malaysia, Moro di Filipina dan Pattani di Thailand.

Mungkinkah perang akan terjadi?

Kemungkinan perang benar-benar terjadi sangat kecil apabila dilihat dari kondisi hubungan AS dan Inggris. Kedua negara ini selalu sefaham, baik di bidang politik dan ekonomi, dari era “Perang Dingin” melawan Uni Sovyet, perang melawan Irak, hingga perlawanan terhadap teroris Al-Qaeda. Kecuali perang dimulai sendiri oleh Malaysia atau Indonesia, atau kesepakatan keduanya tanpa mendengarkan suara AS dan Inggris.

Apabila mendengar berita terakhir mengenai terjadi peningkatan kekuatan angkatan bersenjata oleh militer kedua belah pihak, Indonesia dan Malaysia, di daerah perbatasan, maka analisanya adalah kedua negara berusaha keras mencegah terjadi pertikaian sporadis di pihak sipil kedua negara karena terpancing situasi yang kian memanas. Kalau analisa ini benar, kemungkinan perang akan terjadi benar-benar kecil sekali.

Ada yang perlu dicermati sehubungan dengan insiden-insiden yang memicu kemarahan warga Indonesia terhadap Malaysia akhir-akhir ini, bahwa kemungkinan sebagian insiden-insiden itu dilakukan dengan terencana oleh pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan dari kekisruhan hubungan Indonesia-Malaysia untuk memancing kemarahan rakyat Indonesia.

Sumber : Wikimu
Loading...