|
|
Menu Utama :
05 Januari 2009
My Dear Olive Tree
Osama QashooThe Olive branch is universally recognized as a symbol of peace. But, that hasn't stopped it from being victim of Israeli aggression.In the West Bank and Gaza, the Israeli Army has uprooted nearly half a million trees - some of them dating back to Roman times.What's not in doubt is the personal tragedy this leaves in its wake. Palestinian land owner Sharif Khalid travels over three days to get to the Witness studio to explain to Rageh Omaar why he chooses to sleep in his shed."MY DEAR OLIVE TREE" is a personal and passionate film by a young Palestinian Director.
Sumber : http://sabbah.blip.tv/file/1567835/
19 Desember 2008
16 Desember 2008
Presiden AS George W. Bush Dilempar Dengan Sepatu
George Bush, the US president, has had a pair of shoes hurled at him at a press conference during his last surprise visit to Iraq before leaving office in January.
19 Oktober 2008
Film: Ada Hak Anak Miskin di Diri Guru
Saat ini, film Laskar Pelangi menjadi pembicaraan hangat di masyarakat. Mulai presiden hingga guru-guru di sekolah. Mereka menyempatkan diri pergi ke gedung bioskop dan menonton indahnya film besutan Riri Riza ini. Film yang diadopsi dari novel Andrea Hirata ini bercerita tentang kegigihan anak-anak miskin di Pulai Belitong menempuh pendidikan.
15 Oktober 2008
Zeitgeist - The Movie: Federal Reserve (Part 1 of 5)
"Zeitgeist - The Movie" is a three part film. The film, unedited, is two hours long. The video you are currently watching is part three of three of the film; "The Federal Reserve". If you'd like, you can view parts one (Religion) and two (World Trade Center) in my profile.I have split this video into five parts.You can view the entire video at this link: http://www.zeitgeistmovie.com or click :
http://www.youtube.com/watch?v=_dmPchuXIXQ&feature=related
http://www.youtube.com/watch?v=lBZne09Gf5A&feature=related
http://www.youtube.com/watch?v=SjUrib_Gh0Y&feature=related
http://www.youtube.com/watch?v=_BVNN1wqw3k&feature=related
http://www.youtube.com/watch?v=1I796gwn95I&feature=related
09 Oktober 2008
11 Juni 2008
Cinta Laura dan Inlander
Gaya bicara ekstra-cadel yang ditampilkan oleh Cinta Laura membuat saya menduga ada Pancasila versi baru. Saya sampai harus memasang telinga lebih tajam untuk mencoba memahami bahasa cewek itu: Panchasyila, satju, ketjuhanan zang mahha esza….dan seterusnya dan seterusnya.
Cinta adalah bagian dari gelombang besar jagat televisi dan sinetron nasional yang dikuasai wajah-wajah indo dan bule.
Apa saja yang berbau bule dan indo di sinetron pasti menarik banyak penggemar. Seolah-olah wajah bule akan memberi jaminan kesuksesan. Parade bule dan indo pun kita saksikan di hampir setiap sinetron di televisi kita.
Sepintas, tampaknya tidak ada yang salah dengan situasi ini. Ketika kondisi ekonomi dan sosial semakin sumpek seperti sekarang, rakyat membutuhkan sarana hiburan yang murah dan meriah.
Sinetron pun menjadi pilihan yang paling tepat untuk sarana eskapisme, melarikan diri dari kesumpekan hidup. Daripada pusing memikir kenaikan harga BBM, lebih baik nonton sinetron.
Daripada bunuh diri karena stres memikir biaya hidup yang makin mahal, mending nonton sinetron. Makanya, sekali-sekali kita perlu juga memberi apresiasi kepada para produsen sinteron Indonesia itu. Coba kalau tidak ada sinetron, barangkali jumlah orang gila dan orang bunuh diri makin meningkat.
* * *
Kekaguman terhadap segala sesuatu yang berbau bule bukan fenomena baru di masyarakat kita. Ini merupakan warisan lama sejak era kolonialisme dan imperialiasme.
Ada paradoks dalam masalah ini. Di satu sisi bangsa Indonesia merasakan trauma yang menyakitkan akibat derita panjang penjajahan ratusan tahun.
Tapi, di sisi lain bangsa kita masih saja terkagum-kagum terhadap bule, bahkan sampai berpuluh-puluh tahun kemudian.
Amien Rais--yang lidah dan tulisannya masih tetap tajam--menyebut hal ini sebagai mentalitas inlander atau mental jongos. Mentalitas ini sengaja dibangun oleh penjajah selama ratusan tahun, sehingga sangat sulit menghilangkan legasi itu.
Celakanya, kata Amien, mentalitas inlander ini tidak hanya mewabah di kalangan rakyat bawah. Tapi juga dialami, dengan sama-sama akutnya, oleh para pemimpin dan elite politik kita.
Kalau yang terserang mental inlander itu rakyat kecil, paling akibatnya mereka terkagum-kagum kepada bule dan ketagihan nonton sinetron Indonesia.
Kalau yang terkena penyakit inlander ini artis Indonesia, paling-paling akibatnya mereka jadi terkagum-kagum dan berlomba menikah atau memacari bule. Apa saja asal bule jadi rebutan artis kita, tidak peduli bule, yang di negeri asalnya jadi kuli pun, di sini jadi rebutan.
Tapi, kalau yang terserang penyakit mental inlander ini adalah elite politik, sosial, ekonomi, intelektual, wartawan, agamawan, dan elite-elite yang lain, celakalah bangsa kita ini.
Bacalah buku Amien Selamatkan Indonesia!. Akan terasa betapa Amien sangat marah terhadap kondisi ini. Penderitaan berkepanjangan yang diderita bangsa ini--dalam kesimpulan sederhana Amien--adalah akibat mentalitas inlander para elite politik dan pemerintahan kita.
* * *
Almarhum Edward Said, intelektual Amerika kelahiran Palestina, telah mendedikasikan seluruh karier intelektualnya untuk mengungkap masalah mentalitas jongos ini.
Dalam studi yang dituangkan dalam buku Orientalism dan sekuelnya Culture and Imperialism, Said antara lain menunjukkan bahwa mentalitas inlander itulah yang membuat kolonialisme dan imperialisme meluas ke seluruh negara di Asia dan Afrika dan bertahan ratusan tahun.
Mentalitas inlander itu dibangun secara sistematis dan terus-menerus melalui kekuasaan dan bahkan sastra dan seni, sehingga telah mendarah mendaging dan menulang-sumsum sampai sekarang.
Said memang tidak mempelajari sinteron Indonesia, dia hanya mempelajari karya-karya sastra Barat. Tapi, saya bayangkan kalau Pak Said sempat menonton sinetron Indonesia, dia akan tersenyum getir dan menggumam, 'Ini dia bukti tesis saya'.
Menurut Said, para imperialis itu mencekokkan pandangan bahwa bangsa Barat bukan penjajah. Tapi bangsa Timurlah yang menginginkan dan mengharapkan kehadiran orang Barat ke negerinya untuk menaikkan derajat bangsa-bangsa Timur itu.
Kalau ada kemajuan di negara jajahan, semuanya atas kebaikan hati tuan bule.
Bahkan, Politik Etis di Indonesia pada 1901 yang diperkenalkan oleh Van Deventer dipuji-puji sebagai balas budi. Padahal, itu hanya akal-akalan Belanda saja untuk melanggengkan kekuasaannya.
Edward Said pasti sangat marah kalau kita memuji-muji Van Deventer.
Bagaimana menghilangkan mentalitas itu? Para pemimpin seperti Evo Morales dari Bolivia, Hugo Chavez dari Venezuela, dan Ahmadinejad dari Iran telah berhasil membongakarnya.
Indonesia kapan? Tak tahulah. Pusing kepala memikirnya.
Daripada pusing, hujzan hujzan becheck tjidak ada ojzeck, mending kita nonton sinetron sajalah….*
Sumber : Surya Online
15 April 2008
SLANK vs DPR ~ Gosip jalanan
Pernah kah lo denger mafia judi
Katanya banyak uang suap polisi
Tentara jadi pengawal pribadi
Apa lo tau mafia narkoba
Keluar masuk jadi bandar di penjara
Terhukum mati tapi bisa ditunda
Siapa yang tau mafia selangkangan
Tempatnya lendir-lendir berceceran
Uang jutaan bisa dapat perawan
Kacau balau 2X negaraku ini
Ada yang tau mafia peradilan
Tangan kanan hukum di kiri pidana
Dikasih uang habis perkara
Apa bener ada mafia pemilu
Entah gaptek apa manipulasi data
Ujungnya beli suara rakyat
Mau tau gak mafia di senayan
Kerjanya tukang buat peraturan
Bikin UUD ujung-ujungnya duit
Pernahkah gak denger teriakan Allahu Akbar
Pake peci tapi kelakuan barbar
Ngerusakin bar orang ditampar-tampar
05 April 2008
08 Februari 2008
Film Drama Klosal "Laksamana Cheng Ho" Hampir Rampung
Film ini merupakan film seri, dengan jumlah 30-32 episode @ 50 menit. Cheng Ho diperankan oleh Yusril Ihza Mahendra mantan mensesneg RI melibatkan 6000 kru dari 6 negara. Silahkan dilihat previewnya :
PREVIEW EPISODE I FILM LAKSAMANA CHENG HO
Film drama kolosal Laksamana Cheng Ho ini adalah film cerita yang pertama diproduksi, setelah sebelumnya CCTV 4 China membuat film dokumenter mengenai armada Cheng Ho. Film ini dikerjakan bersama oleh Kantana Ltd, perusahaan film terkemuka Thailand, PT Jupiter Global Film dari Indonesia dan Heng Dian Movie Corporation dari China. Para aktor dan aktris film ini berasal dari Thailand, Indonesia, China, Vietnam, Kamboja dan Malaysia. Skenario film ditulis dalam enam bahasa, untuk kemudian disulihbahasakan ke berbagai bahasa di mana film kolosal ini ditayangkan. Selain ditayangkan di Indonesia, dalam waktu berdekatan, film ini juga akan ditayangkan oleh tevelisi China, Thailand, Malaysia, Singapore, Vietnam, Kamboja, Myanmar dan Turki. Negara-negara Timur Tengah, kabarnya juga berminat untuk menayangkan kisah laksamana beragama Islam dari Dinasti Ming pada awal abad ke 15 ini.
Armada Cheng Ho dikenal sebagai armada laut terbesar yang pernah ada sebelum kita memasuki era modern. Armada itu terdiri atas 320 kapal, dengan 28.000 prajurit angkatan laut, dan sekitar 5000 awak kapal. Armada itu mengontrol lautan mulai dari Mogadishu di Afrika sampai ke Philipina dan Taiwan di Lautan Pasifik.
Laksamana Cheng Ho, selain berperan besar dalam membangun kejayaan Dinasti Ming, juga berperan besar dalam membangun persahabatan dan kerjasama antarabangsa di kawasan Asia dan Afrika. Armadanya aktif melerai berbagai konflik di berbagai kawasan, mengamankan alur pelayaran internasional dari ancaman bajak laut, dan membangun kerjasama pertanian, perdagangan, kebudayaan serta memberikan bantuan teknis militer dan pertahanan kepada berbagai negara di kawasan Asia Tenggara, termasuk Kerajaan Champa (Vietnam), Suvarnabhumi (Thailand), Melaka (Malaysia) dan Majapahit serta wilayah eks Kerajaan Sriwijaya (Indonesia).
Untuk menyaksikan preview episode pertama film Laksamana Cheng Ho, dapat menggunakan fasilitas upload video dari Youtube. Resolusi yang lebih baik dapat didownload dari link ini. Format Youtube menggunakan default format .flv sedangkan video yang pada link diatas menggunakan format .mov (Quick Time Format) yang dapat dibuka menggunakan VLC yang tersedia baik untuk sistem operasi Windows maupun Linux. Proses uploadnya memakan waktu yang agak panjang, tergantung pada kemampuan komputer masing-masing. Dengan tampilan, mungkin yang hasilnya kurang memuaskan karena terputus-putus. Tepi semuanya, sekali lagi, tergantung pada kemampuan komputer masing-masing.
Sumber : Website Yusril Ihza Mahendra
PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]