Menu Utama :


[PETA NUSANTARA] [RADIO HARAMAIN] [TV-ISLAM CHANNEL] [QIBLAT LOCATOR] [MUSIK DAN FILM] [SLIDE FOTO]

pemikiran dan analisis para pakar untuk pembangunan bangsa


11 Juni 2008

Cinta Laura dan Inlander

Saya bukan penggemar infoatainment. Tetapi, ketika 1 Juni yang lalu saya menghidupkan televisi saya tertawa melihat seorang gadis cantik bernama Cinta Laura sedang membaca Pancasila.

Gaya bicara ekstra-cadel yang ditampilkan oleh Cinta Laura membuat saya menduga ada Pancasila versi baru. Saya sampai harus memasang telinga lebih tajam untuk mencoba memahami bahasa cewek itu: Panchasyila, satju, ketjuhanan zang mahha esza….dan seterusnya dan seterusnya.

Cinta adalah bagian dari gelombang besar jagat televisi dan sinetron nasional yang dikuasai wajah-wajah indo dan bule.

Apa saja yang berbau bule dan indo di sinetron pasti menarik banyak penggemar. Seolah-olah wajah bule akan memberi jaminan kesuksesan. Parade bule dan indo pun kita saksikan di hampir setiap sinetron di televisi kita.

Sepintas, tampaknya tidak ada yang salah dengan situasi ini. Ketika kondisi ekonomi dan sosial semakin sumpek seperti sekarang, rakyat membutuhkan sarana hiburan yang murah dan meriah.

Sinetron pun menjadi pilihan yang paling tepat untuk sarana eskapisme, melarikan diri dari kesumpekan hidup. Daripada pusing memikir kenaikan harga BBM, lebih baik nonton sinetron.

Daripada bunuh diri karena stres memikir biaya hidup yang makin mahal, mending nonton sinetron. Makanya, sekali-sekali kita perlu juga memberi apresiasi kepada para produsen sinteron Indonesia itu. Coba kalau tidak ada sinetron, barangkali jumlah orang gila dan orang bunuh diri makin meningkat.

* * *
Kekaguman terhadap segala sesuatu yang berbau bule bukan fenomena baru di masyarakat kita. Ini merupakan warisan lama sejak era kolonialisme dan imperialiasme.

Ada paradoks dalam masalah ini. Di satu sisi bangsa Indonesia merasakan trauma yang menyakitkan akibat derita panjang penjajahan ratusan tahun.

Tapi, di sisi lain bangsa kita masih saja terkagum-kagum terhadap bule, bahkan sampai berpuluh-puluh tahun kemudian.

Amien Rais--yang lidah dan tulisannya masih tetap tajam--menyebut hal ini sebagai mentalitas inlander atau mental jongos. Mentalitas ini sengaja dibangun oleh penjajah selama ratusan tahun, sehingga sangat sulit menghilangkan legasi itu.

Celakanya, kata Amien, mentalitas inlander ini tidak hanya mewabah di kalangan rakyat bawah. Tapi juga dialami, dengan sama-sama akutnya, oleh para pemimpin dan elite politik kita.
Kalau yang terserang mental inlander itu rakyat kecil, paling akibatnya mereka terkagum-kagum kepada bule dan ketagihan nonton sinetron Indonesia.

Kalau yang terkena penyakit inlander ini artis Indonesia, paling-paling akibatnya mereka jadi terkagum-kagum dan berlomba menikah atau memacari bule. Apa saja asal bule jadi rebutan artis kita, tidak peduli bule, yang di negeri asalnya jadi kuli pun, di sini jadi rebutan.

Tapi, kalau yang terserang penyakit mental inlander ini adalah elite politik, sosial, ekonomi, intelektual, wartawan, agamawan, dan elite-elite yang lain, celakalah bangsa kita ini.

Bacalah buku Amien Selamatkan Indonesia!. Akan terasa betapa Amien sangat marah terhadap kondisi ini. Penderitaan berkepanjangan yang diderita bangsa ini--dalam kesimpulan sederhana Amien--adalah akibat mentalitas inlander para elite politik dan pemerintahan kita.

* * *
Almarhum Edward Said, intelektual Amerika kelahiran Palestina, telah mendedikasikan seluruh karier intelektualnya untuk mengungkap masalah mentalitas jongos ini.
Dalam studi yang dituangkan dalam buku Orientalism dan sekuelnya Culture and Imperialism, Said antara lain menunjukkan bahwa mentalitas inlander itulah yang membuat kolonialisme dan imperialisme meluas ke seluruh negara di Asia dan Afrika dan bertahan ratusan tahun.

Mentalitas inlander itu dibangun secara sistematis dan terus-menerus melalui kekuasaan dan bahkan sastra dan seni, sehingga telah mendarah mendaging dan menulang-sumsum sampai sekarang.

Said memang tidak mempelajari sinteron Indonesia, dia hanya mempelajari karya-karya sastra Barat. Tapi, saya bayangkan kalau Pak Said sempat menonton sinetron Indonesia, dia akan tersenyum getir dan menggumam, 'Ini dia bukti tesis saya'.

Menurut Said, para imperialis itu mencekokkan pandangan bahwa bangsa Barat bukan penjajah. Tapi bangsa Timurlah yang menginginkan dan mengharapkan kehadiran orang Barat ke negerinya untuk menaikkan derajat bangsa-bangsa Timur itu.

Kalau ada kemajuan di negara jajahan, semuanya atas kebaikan hati tuan bule.
Bahkan, Politik Etis di Indonesia pada 1901 yang diperkenalkan oleh Van Deventer dipuji-puji sebagai balas budi. Padahal, itu hanya akal-akalan Belanda saja untuk melanggengkan kekuasaannya.

Edward Said pasti sangat marah kalau kita memuji-muji Van Deventer.
Bagaimana menghilangkan mentalitas itu? Para pemimpin seperti Evo Morales dari Bolivia, Hugo Chavez dari Venezuela, dan Ahmadinejad dari Iran telah berhasil membongakarnya.
Indonesia kapan? Tak tahulah. Pusing kepala memikirnya.

Daripada pusing, hujzan hujzan becheck tjidak ada ojzeck, mending kita nonton sinetron sajalah….*

Sumber : Surya Online

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

New Page 14

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.
PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]

Cari artikel, informasi di website dan atau di blog ini, seperti; foto (image), audio dan video dengan mesin Google berikut. Ketik keyword (kata kunci) dalam kotak, klik tombol "cari" pada form berikut :
Google
TIPs : Untuk mengotimalkan pemakaian mesin pencari "google.com" diatas, dapat Anda pelajari disini, silahkan klik: [http://zulfikri-kamin.blogspot.com/2008/07/tips-mengotimalkan-mesin-pencari.html] ----------