Menu Utama :


[PETA NUSANTARA] [RADIO HARAMAIN] [TV-ISLAM CHANNEL] [QIBLAT LOCATOR] [MUSIK DAN FILM] [SLIDE FOTO]

pemikiran dan analisis para pakar untuk pembangunan bangsa


27 September 2008

Budaya Malu Dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka

Pidato Kebudayaan Taufiq Ismail
di Taman Ismail Marzuki 15 Desember 2006.

Sederetan gelombang besar menggebu-gebu menyerbu pantai Indonesia, naik ke daratan, masuk ke pedalaman. Gelombang demi gelombang ini datang susun-bersusun dengan suatu keteraturan, mulai tahun 1998 ketika reformasi; meruntuhkan represi 39 tahun gabungan zaman Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi Pembangunan, dan membuka lebar pintu dan jendela Indonesia.

Hawa ruangan yang sumpek dalam dua zaman itu berganti dengan kesegaran baru. Tapi tidak terlalu lama, kini digantikan angin yang semakin kencang dan arus yang nienderu-deru.

Kebebasan berbicara, berpendapat, dan mengeritik, berdiri-menjamurnya partai-partai politik baru, keleluasaan berdemonstrasi, ditiadakannya SIUPP (izin penerbitan pers), dilepaskannya tahanan politik, diselenggarakannya pemilihan umum bebas dan langsung, dan seterusnya. Dinikmati belum sampai sewindu, tapi sementara itu silih berganti beruntun-runtun belum terpecahkan krisis yang tak habis-habis, tagihan rekening reformasi ternyata mahal sekali.

Bahana yang datang terlambat dari benua-benua lain itu menumbuh dan menyuburkan kelompok permisif dan adiktif negeri kita, yang sejak 1998 naik daun. Arus besar yang menderu-deru menyerbu kepulauan kita adalah gelombang sebuah GERAKAN SYAHWAT MERDEKA. Gerakan tak bersosok organisasi resmi ini tidak berdiri sendiri, tapi bekerja sama bahu-membahu melalui jaringan mendunia, dengan kapital raksasa mendanainya, dan banyak media massa cetak dan elektronik jadi pengeras suaranya.

Siapakah komponen gerakan syahwat merdeka ini ?

Pertama, adalah praktisi sehari-hari kehidupan pribadi dan kelompok dalam perilaku seks bebas hetero dan homo, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Sebagian berjelas-jelas anti kehidupan berkeluarga normal, sebagian lebih besar tak mau menampakkan diri .

Kedua, penerbit majalah dan tabloid mesum, yang telah menikmati tiada perlunya SIUPP. Mereka menjual wajah dan kulit perempuan muda, lalu menawarkan jasa hubungan kelamin pada pembaca pria dan wanita lewat nomor telepon genggam, serta mengiklankan berbagai alat kelamin tiruan (kue pancong berkumis dan lemper berbaterai) dan boneka karet perempuan yang bisa dibawa bobok bekerjasama.

Ketiga, produser, penulis skrip dan pengiklan acara televisi syahwat seks siswa dengan guru, ayah dengan anak, siswa dengan siswa, siswa dengan pria paruh baya, siswa dengan pekerja seks komersial ditayangkan pada jam prime-time, kalau pemainnya terkenal. Remaja berseragam OSIS memang menjadi sasaran segmen pasar pcnting lahun-tahun ini. Beberapa guru SMA menyampaikan keluhan pada saya. "Citra kami guru-guru SMA di sinetron adalah citra guru tidak cerdas, kurang pergauldn dan memalukan”. Mari kita ingat ekstensifnya pengaruh tayangan layar kaca ini. Setiap tayangan televisi, rata-rata 170.000.000 yang memirsa. Seratus tujuh puluh juta pemirsanya!

Kecmpat, 4.200.000 (empat koma dua juta) situs porno dunia, 100.000 (seratus ribu) situs porno Indonesia di internet. Dengan empat kali klik di komputer, anatomi tubuh perempuan dan laki-laki, sekaligus fisiologinya, dapat diakses tanpa biaya, sama mudahnya dilakukan baik dari San Frascisco, Timbuktu, Rotherdam maupun Klaten.

Pornografi gratis di internet luar biasa besar jumlahnya. Seorang sosiolog Amerika Serikat mengumpamakan serboan kecabulan itu di negaranya bagaikan "gelombang tsunami setinggi 30 meter, dan kami melawannya dengan dua telapak tangan". Di Singapura, Malaysia, Korea Selatan situs porno diblokir Pemerintah untuk terutama meliiidungi anak-anak dan remaja. Pemerintah kita tidak melakukan hal yang sama.

Kelima, penulis, penerbit dan propagandis buku syahwat 50% sastra dan 25% sastra di Malaysia, penulis yang mencabul-cabulkan karyanya penulis pria. Di Indonesia, penulis yang asyik dengan wilayah selangkang dan sekitarnya mayoHtas penulis perempuan. Ada kritikus sastra Malaysia berkata: "Wah, pak Taufik, pengarang wanita Indonesia berani-berani. Kok mereka tidak main, ya?". Memang begitulah, rasa rnalu itu yang sudah terkikis, bukan saja pada penulis-penulis perempuan aliran S.M.S (Sastra Mazhab Selangkang) itu, bahkan lebih-lebih lagi pada banyak bagian dari bangsa.

Keenam, penerbit dan pengedar komik cabul. Komik yang kebanyakan terbitan dengan teks dialog diterjemahkan ke bahasa kita itu tampak dari kulit luar biasa-biasa saja, tapi didalamnya banyak gambar hubungan badannya, misalnya (bukan main) antara siswa dengan Bu Guru. Harganya Rp 2.000. Sebagian komik-komik itu tidak semata lucah saja, tapi ada pula kadar idiologinya. Idiologinya adalah anjuran perlawanan pada orang tua dan guru yang banyak aturan ini-itu, termasuk terhadap seks bebas. Dalam salah satu komik itu saya baca kecaman yang paling sengit adalah pada Menteri Pendidikan Jepang. Tentu saja dalam teks terjemahan berubah, yang dikecam jadinya Menteri Pendidikan Nasional kita.

Ketujuh, produsen, pengganda, pembajak, pengecer dan penonton VCD/DVD Biru. Indonesia kini jadi sorga besar Pornografi paling murah di Dunia, diukur dari kwantitas dan harganya. Angka resmi produksi dan bajakan tidak saya ketahui, tapi literatur menyebut antara 2 juta - 20 juta keping setahun. Harga yang dulu Rp 30.000 sekeping, kini turun menjadi Rp 3.000, bahkan lebih murah lagi. Dengan biaya 3 batang rokok kretek yang diisap 15 menit, orang bisa menonton sekeping VCD/DVD Biru dengan pelaku kulit putih dalam 6 posisi selama 60 menit. Luar biasa murah. Anak SD kita bisa membelinya tanpa risi, tanpa larangan peraturan Pemerintah. Seorang peneliti mengabarkan bahwa di Jakarta Pusat ada murid-murid laki-laki yang kumpul dua sore seminggu di rumah salah seorang dari mereka, lalu menayangkan VCD/DVD porno. Sesudah selesai mereka onani bersama-sama. Siswa sekolah apa? dan kelas berapa?
Siswa SD, kelas lima. Tak diceriterakan apa ekses selanjutnya.

Kedelapan, pabrikan dan konsumen alkohol. Minuman keras dari berbagai merek dengan mudah bisa diperoleh di pasaran. Kemasan botol kecil diproduksi, mudah masuk kantong celana, harga murah, dijual di kios tukang rokok di depan sekolah, remaja dengan bebas bisa membelinya. Di Amerika dan Eropa batas umur larangan dibawah 1 8 tahun. Negeri kita pasar besar minuman keras, jualannya sampai ke desa-desa (tanpa batas umur).

Kesembilan, produsen, pengedar dan pengguna narkoba. Tingkat keterlibatan Indonesia bukan pada pengedar dan pengguna saja, bahkan kini sampai pada derajat produsen dunia. Enam juta anak muda Indonesia terperangkap sebagai pengguna, ratusan ribu menjadi korbannya. (diluar teks: "di provinsi tetangga ada pabrik narkoba terbesar ketiga didunia).

Kesepuluh, pabrikan, pengiklan dan pengisap nikotin. Korban racun nikotin 57.000 orang/tahun, maknanya setiap hari 156 orang mati, atau setiap 9 menit seorang pecandu rokok meninggal dunia. Pemasukan pajak 15 triliyun (1996), tapi ongkos pengobatan berbagai penyakit akibatnya 30 triliyun rupiah. Mengapa alkohol, narkoba dan nikotin termasuk dalam katagori kontributor arus syahwat merdeka ini? Karena sifat adiktifnya, kecanduannya, yang sangat mirip, begitu pula proses pembantukan ketiga adiksi tersebut dalam susunan syaraf pusat manusia. Dalam masyarakat permisif, interaksi antara seks dengan alkohol, narkoba dan nikotin, akrab sekali sukar dipisahkan. Interaksi kemudian dilengkapi dengan tindak kriminalitas berikutnya, seperti pemerasan, perampokan sampai pembunuhan. Setiap hari berita semacam ini dapat dibaca dikoran-koran. (conloh selebritis Alda mati dihotel di Jakarta).

Kesebelas, pengiklan perempuan dan laki-laki panggilan. Dalam masyarakat permisif, iklan semacam ini menjadi jembatan komunikasi yang diperlukan.

Keduabelas, germo dan pelanggan prostitusi. Apabila hubungan syahwat suka sama suka yang gratis tidak tersedia, hubungan dalam bentuk perjanjian bayaran merupakan jalan keluarnya. Dalam hal ini prostitusi berfungsi.

Ketigabelas, Dokter dan dukun praktisi aborsi. Akibat tujuh unsur pertama diatas, kasus perkosaan dan kchamilan diluar pernikahan meningkat drastis. Setiap hari dapat kita baca kasus siswa SMP/SMA memperkosa anak SD, satu- satu atau rame-rame, ketika papi mami tak ada dirumah dan pembantu pergi ke pasar berbelanja. Setiap ditanyakan apa sebab dia/mereka memperkosa, selalu dijawab karena terangsang sesudah menonton VCD/DVD Biru dan ingin mencobakannya. Praktisi aborsi gelap menjadi tempat pelarian, bila kehamilan terjadi,, Seorang peneliti dari sebuah Universitas di Jakarta menyebutkan bahwa angka aborsi di Indonesia 2,2 juta setahunnya. Maknanya setiap 15 detik seorang calon bayi di suatu tempat di negeri kita meninggal akibat dari salah satu atau gabungan ketujuh faktor diatas. Inilah produk akhirnya. Luar biasa destruksi sosial yang diakibatkannya. ; Dalam gemuruh gelombang gerakan syahwat merdeka ini, pomografi dan pornoaksi menjadi bintang panggungnya, melalui gemuruh kontroversi pro kontra RUU APP.

Karena satu dua atau beberapa kekurangan dalam RUU itu, yang total kontra menolaknya, tanpa sadar terbawa dalam gelombang gerakan syahwat merdeka ini. Tetapi bisa juga dengan sadar memang mau terbawa didalamnya. Salah satu kekurangan RUU itu, yang perlu ditambah sempurnakan adalah perlindungan bagi anak cucu kita, jumlahnya 60 juta, terhadap kekerasan pornografi. Dalam hiruk-pikuk disekitar RUU ini, terlupakan betapa dalam usia sekecil itu 80% anak-anak 9-12 th. Terpagar pornografi, situs porno di internet naik lebih 10 kali lipat, lalu 40% anak-anak kita yang lebih dewasa sudah melakukan hubungan seks pra nikah. Sementara anak-anak di Amerika Serikat dilindungi oleh 6 undang-undang, anak-anak kita belum, karena undang-undangnya belum ada. KUHP yang ada tidak melindungi mereka karena kunonya. Gelombang Syahwat Merdeka yang menolak total RUU ini berarti menolak melindungi anak cucu kita sendiri. Gerakan tak bernama tak bersosok organisasi ini terkoordinasi bahu-membahu, menumpang gelombang massa, Reformasi mendestruksi moralitas dan tatanan sosial. Ideologinya neo-liberalisme, pandangannya materialistis, disokong kapitalisme jagad raya.

MENGUJI RASA MALU DIRI SENDIRI

Seorang pengarang muda meminta pendapat saya tentang cerita pendeknya yang dimuat disebuah media. Dia berkata: "kalau cerpen saya itu dianggap pornografi, wah, sedihlah saya". Saya waktu itu belum sempat membacanya. Tapi saya kirimkan padanya pendapat saya mengenai pornografi.

Begini, misalkan saya menulis sebuah cerpen. Saya akan mentes, menguji karya saya itu lewat dua tahap. Pertama, bila tokoh-tokoh dalam karya saya itu saya ganti dengan ayah, ibu, mertua, isteri, anak, kakak, adik, siswa dikelas sekolah, anggota pengajian masjid, jemaah gereja; kemudian saya tidak merasa main, tiada dipermalukan, tak canggung, tak risi, tak muak dan tidak jijik karenanya, maka karya saya itu bukan karya pornografi.

Hal ini berlaku pula bila karya itu bukan karya saya. Ketika saya menilai karya orang lain. Sebaliknya dipakai tolok ukur yang sama juga, yaitu bila orang lain menilai karya saya. Setiap pembaca bisa melakukan tes tersebut dengan cara yang serupa.

Pedekatan saya adalah pengujian rasa malu itu. Rasa malu itu yang kini luntur dalam warna tekstil kehidupan bangsa kita, dalam terlalu banyak hal.
Sebuah majalah mesum dunia dengan selaput artistik, Playboy, menumpang taufan reformasi dan gelombang liberalisme akhirnya terbit juga di Indonesia. Majalah ini medium awal masturbasi pembaca Amerika, dan kini, beberapa puluh tahun kemudian dikalahkan oleh situs porno internet, sehingga jadilah publik pembaca dan publik langganan internet Amerika tukang onani terbesar di dunia. Majalah pabrik pengeruk keuntungan dari kulit tubuh perempuan ini, mencoba menjajalkan bentuk eksploitasi kaum hawa dinegeri kita yang pangsa pasarnya luar biasa besar ini. Bila mereka berhasil, maka bakal berderet antri majalah anti tekstil ditubuh perempuan dan fundamentalis syahwat merdeka seperti Penthouse, Hustler, Celebrity skin, Cheri, Swank, Velvet, Cherry Pop, XXX teens dan seterusnya.

Untuk mengukur sendiri rasa malu penerbit dan redaktur Payboy, saya sarankan kepada mereka melakukan sebuah percobaan, yaitu mengganti model 4/5 telanjang majalah itu dengan ibu kandung, ibu mertua, kakak, adik, istri dan anak perempuan mereka sendiri. Sesudah dimuat, promosikan foto-foto itu di 10 saluran televisi dan 25 surat kabar. Bagaimana? Berani? Malu atau tidak ? Pendekatan lain yang dapat dipakai juga adalah menduga, memperkirakan, mengingat akibat yang mungkin terjadi sesudah orang membaca karya pornografis itu. Sesudah seorang membaca, katakan cerpen yang memberi sugesti secara samar-samar tejadinya hubungan kelamin, apabila kalau dengan jelas mendiskripsikan adegannya, apakah dengan kata-kata indah yang dianggap sastrawi atau kalimat-kalimat brutal, maka pembaca akan terangsang.

Sesudah terangsang yang paling penakut akan onani dan yang paling nekat akan memperkosa. Memperkosa perempuan dewasa tidak mudah, karena itu anak kecil jadi sasaran. Perkosaan banyak terjadi terhadap anak-anak kecil masih bau susu bubuk, belum haid yang dirumah sendirian karena papi mami pergi kerja, pembantu pergi kepasar, jam 9.00-10.00 pagi.

Anak-anak tanggung pemerkosa itu, ketika diinterogasi dan ditanya kena apa, umumnya bilang karena sesudah menonton VCD porno, mereka terangsang ingin mencoba sediri. Merayu orang dewasa takut, mendekati perempuan bayaran tidak ada uang. Kalau diteliti lebih jauh kasus yang sangat banyak ini (peneliti yang raj in akan bisa mendapat S-3 lewat tumpukan guntingan Koran), mungkin saja anak itu juga pernah membaca cerita pendek, puisi, novel atau komik cabul.

Akibat selanfutnya, merebak-meluaslah aborsi, prostitusi^ 'penularan penyakit kelamin gonorrhoe, siphilis, HIV/AIDS, yang meruyak di kota-kota besar Indonesia berbarengan dengan akibat penggunaan alkohol dan narkoba yang tak kalah destruktifhya. ,;

AKIBAT SOSIAL INI TAK PERNAH DIFIKIRKAN PENULIS

Semua rangkaian musibah sosial ini tidak pernah difikirkan oleh penulis cerpen/puisi/novelis erotis yang umumnya asyik berdandan dengan dirinya sendiri, mabuk posisi selebriti, kesana disanjung kesini dipuji, tidak pernah bersedia merenungkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh tulisannya. Sejumlah cerpen dan novel pasca reformasi sudah dikatakan orang mendekati VCD/DVD porno tertulis. Maukah mereka membayangkan, bahwa sesudah sebuah cerpen atau novel dengan rangsangan syahwat terbit, maka beberapa ratus atau ribu pembaca yang terangsang itu akan mencontoh apa yang disebutkan dalam alinea-alinea diatas tadi dengan segala rentetan kemungkinan yang bisa terjadi selanjutnya?

Destruksi sosial yang dilakukan penulis cerpen/novel syahwat itu, beradik kakak dengan destruksi yang dilakukan produsen/pengedar/ pembajak/pengecer VCD/DVD porno, beredar (diperkirakan) sebanyak 20 juta keping, yang telah meruyak dimasyarakat kita, masyarakat konsumen pornografi terbesar dan termurah di dunia. Dulu harganya Rp 30.000 sekeping, kini Rp 3.000 sama murahnya 3 batang rokok kretek. Mengisap rokok kretek 15 menit sama biayanya dengan memiliki dan menonton sekeping VCD/DVD syahwat sepanjang 60 menit itu. Bcrsama dengan produsen Alkohol, narkoba dan nikotin, mereka tidak sadar telah menjadi unsur penting pengukuhan masyarakat permisif/addiktif/serba boleh/apa saja genjot, yang dengan bersemangat apa mereka anggap tabu selama ini, berpartisipasi meluluh lantakkan moralitas anak bangsa.

PERZINAAN YANG HAKEKATNYA PENCURIAN ADALAH CIRI SASTRA SELANGKANG.

Akhirnya sesudah mendapatkan korannya, saya membaca cerpen karya penulis yang tersebut diatas. Dalam segi teknik penulisan, cerpen itu lancar dibaca. Dalam segi isi sederhana saja, dan secara klise sering ditulis pengarang Indonesia yang pertama kali pergi keluar negri, yaitu pertemuan seorang laki-laki di negeri asing dengan perempuan asing di negeri itu. Kedua-duanya kesepian. Si laki-laki Indonesia lupa istri di kampung. Diakhir cerita mereka, mereka berpelukan dan berciuman. Begitu saja.Dalam interaksi yang kelihatan iseng itu, cerpenis tidak menyatakan sikap yang jelas terhadap hubungan kedua orang itu. Akan kemana hubungan itu berlanjut, juga tak eksplisit. Apakah akan sampai pada hubungan pernikahan atau pezinaan, kabur adanya.

Perzinaan adalah sebuah pencurian. Yang melakukan zina mencuri hak orang lain, yaitu hak penggunaan alat kelamin orang lain secara tidak sah. Penzina melakukan intervensi terhadap ruang privat alat kelamin yang dizinahi. Dia tak punya hak untuk itu. Yang dizinahi bersekongkol dengan yang melakukan penetrasi, dia juga tak punya hak mengizinkannya. Pemerkosa adalah perampok penggunaan alat kelamin orang yang diperkosal Penggunan alat kelamin seseorang diatur dalam lembaga pernikahan yang suci adanya.

Para pengarang yang terang-terangan tidak setuju pada lembaga pemikahan, dan/atau melakukan hubungan kelamin semaunya, yang tokoh-tokoh dalam karyanya diberi peran syahwat merdeka, adalah rombongan pencuri bersuluh sinar rembulan dan matahari. Mereka maling tersamar. Mereka celakanya, tidak merasa jadi maling karena (herannya) ada propagandis sastra menghadiahi mereka glorifikasi, dan penerbit menyediakan gratifikasi. Propagandis dan penerbit sastra semacam ini dalam istilah kriminologi, berkomplotan dengan maling.

Hal ini berlaku bukan saja (yang dianggap) sastra, tapi juga untuk bacaan turisme, rujukan tempat hiburan malam, dan semacam itu. Buku petunjuk yang begitu langsung tak langsung menunjukkan cara berzina, lengkap dengan nama, alamat tempat berkumpulnya alat-alat kelamin yang dapat dicuri haknya dengan cara membayar tunai atau dengan kartu kredit gesekan.

Sastra Mazhab Selangkang adalah sastra yang asyik dengan berbagi masalah wilayah selangkang dan sekitarnya. Kalau di Malaysia pengarang-pengarang yang mencabul-cabulkan karya kebanyakan pria, maka di Indonesia pengarang sastra selangkang mayoritas perempuan. Beberapa diantaranya mungkin memang nimphomania atau gila syahwat, hingga ada kritikus sastra sampai hati menyebutnya "vagina yang haus sperma". Mestinya ini sudah menjadi kasus psikiatri yang baik disigi, tentang kemungkinannya jadi epidemi dan harus dikasihani.

Bila dua abad yang lalu sejumlah perempuan Aceh, Jawa dan Sulawesi Selatan naik tahta sebagai penguasa tertinggi kerajaan, sultanah atau ratu dengan kenegarawanan dan reputasi terpuji, maka diabad 21 ini sejumlah perempuan Indonesia mencari dan memburu tepuk tangan kelompok permissif dan adiktif sebagai penulis sastra selangkang, yang aromanya jauh dari wangi, menyiarkan bau amis-bacin kelamin tersendiri, yang bagi mereka parfum sehari-hari

DENGAN RINGAN NAMA TUHAN DIPERMAINKAN

Di tahun 1971-1972 ketika saya jadi penyair tamu di Iowa Writing Program Universitas Iowa, di benua itu sedang heboh-hebohnya gelombang gerakan perempuan. Kini, 34-an tahun kemudian arus riaknya sampai ke Indonesia. Kaum feminis Amerika waktu itu sedang gencar-gencarnya mengumumkan pembebasan kaum perempuan, terutama liberasi kopulasi, kebebasan berkelamin, di koran, majalah, buku dan televisi.

Menyaksikan penampilan para maling hak penggunaan alat kelamin orang lain itu di layar kaca, yang cengengesan dan mringas mringis seperti Gloria Steinem dan semacamnya, banyak orang mual dan jijik karenanya. Mereka tidak peduli terhadap epidemik penyakit kelamin HIV/AIDS yang meruyak menyebar seantero Amerika Serikat waktu itu, menimpa baik orang laki-laki maupun perempuan, hetero dan homoseksual, akibat kebebasan yang bablas itu.

Di stasiun kereta api bawah tanah New York, seorang laki-laki korban HIV/AIDS menadahkan topi mengemis. Belum pernah saya melihat kerangka manusia berbalut kulit tanpa daging dan lemak sekurus dia itu. Sinar matanya kosong, suaranya parau. Kematian banyak anggota kelompok ini, terutama di kalangan seniman di tahun 1970-an tulis seorang esais, bagaikan kematian di medan perang Vietnam. Sebuah orkestra simphoni di New York, anggota-anggotanya bergiliran mati saban minggu karena kejangkitan HIV/AIDS dan narkoba, akibat kebebasan bablas itu. Para pembebas kaum perempuan itu tak acuh pada bencana menimpa bangsa karena asyik mendandani penampilan selebriti diri sendiri. Saya sangat heran. Sungguh memuakkan.

Kalimat bersayap mereka adalah "This is my body, I'll do whatever I like with my body (ini tubuhku. Aku akan lakukan apa saja yang aku suka dengan tubuhku ini)". Congkaknya luar biasa, seolah-olah tubuh mereka itu ciptaan mereka sendiri, padahal tubuh itu pinjaman kredit mencicil dari Tuhan, cuma satu tingkat di atas sepeda motor Jepang dan Cina yang diobral di iklan koran-koran.

Mereka tak ada urusan dengan Maha Produser Tubuh itu. Penganjur masyarakat permissif di mana pun juga, tidak suka Tuhan dilibatkan dalam segala urusan. Jangan bicara tentang moral dengan mereka. Dengan ringan nama Tuhan dipermainkan dalam karya. Situasi kita kini merupakan riak-riak gelombang dari jauh itu, dari abad 2p ke awal abad 21 ini, advokatornya dengan semangat dan stamina mirip anak-anak remaja bertopi beisbol yang selalu meniru membeo apa saja yang berasal dari Amerika Utara itu.

Ciri kolektif seluruh komponen gerakan syahwat merdeka ini adalah budaya malu yang telah kikis nyaris habis dari susunan syaraf pusat dan batang tubuh mereka, dan tak adanya lagi penghormatan terhadap hak penggunaan kelamin orang lain yang disabet/diserimpung/dikorupsi dengan entengnya. Tanpa memiliki hak penggunaan kelamin orang lain, maka sesungguhnya gerakan syahwat merdeka adalah maling dan garong genitalia, berserikat dengan alkohol, nikotin dan narkoba, menjadi perantara kriminalitas di masyarakat luas, mencecerkan HIV/AIDS dan aborsi, bersuluh bulan dan matahari.

Jakarta 15 Desember 2006

Dikutip sesuai dengan aslinya oleh H. M. Muadz Dirdjowijoto, atas izin penulis Bapak Taufiq Ismail, untuk disebar luaskan dalam upaya menyelamatkan anak bangsa, generasi-generasi sekarang dan yang akan datang.

Last Updated ( Thursday, 22 February 2007 )


Sumber : pdskjijaya.org

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

New Page 14

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.
PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]

Cari artikel, informasi di website dan atau di blog ini, seperti; foto (image), audio dan video dengan mesin Google berikut. Ketik keyword (kata kunci) dalam kotak, klik tombol "cari" pada form berikut :
Google
TIPs : Untuk mengotimalkan pemakaian mesin pencari "google.com" diatas, dapat Anda pelajari disini, silahkan klik: [http://zulfikri-kamin.blogspot.com/2008/07/tips-mengotimalkan-mesin-pencari.html] ----------